Review: SteamWorld Dig 2

Latar Belakang
Game keluaran studio Image & Form http://imageform.se asal Swedia ini merupakan sekuel dari SteamWorld Dig 1 yang jagoan utamanya seorang robot bernama Rusty. Di SWD2, lakon utama robot yang kita mainkan bernama Dorothy (robot berjenis kelamin perempuan). Robot yang penampilannya sekilas mengingatkan kita pada Samus Aran ini memiliki nama lengkap Dorothy McCrank; dan cerita utama game ini adalah membantu Dorothy mencari sosok Rusty yang menghilang. Maklum, di SWD1 si Rusty sering menjual hasil tambangnya ke tokonya Dorothy; lama-lama mungkin jadi akrab karena sering ngobrol, lalu Dorothy bingung kok Rusty sudah tidak pernah datang lagi ke tokonya. Jadi Dorothy memutuskan untuk mencari temannya. Apapun resikonya, Rusty harus ditemukan! Mungkin begitu kira-kira suara hati Dorothy.

Mekanisme
Banyak orang terkecoh kata “dig” pada judul franchise ini. SWD2 tidak menitikberatkan pada “dig”. Menggali memang salah satu kegiatan utama si Dorothy untuk membuka jalan; tapi ada benang merah cerita yang sangat jelas, sedikit elemen RPG, sedikit elemen platforming. Nah untuk mengikuti cerita, kita disuruh ke titik yang semakin dalam dan dalam lagi. Untuk menujunya, kita harus menggali dan menggali. Tapi menggali bukanlah fokus utama pada game ini.
Kota utama di SteamWorld terletak di atas permukaan. Di kota ini ada 3 aktifitas penting yang sering dilakukan Dorothy:
  1. Jual hasil tambang untuk mendapatkan uang tunai. Beda mineral, beda juga harganya. Biasanya daerah yang berbahaya (cth: lahar api, asam keras, tertimpa batu lepas) akan memiliki hasil mineral yang mahal. Jadi resiko sebanding dengan hasil yang didapat.
  2. Upgrade gadget Dorothy dengan menggunakan uang hasil jual mineral. Ada banyak aspek pada gadget yang bisa diupgrade dan terasa sangat menyenangkan sekali mengutak-atik keputusan mana dulu yang perlu diupgrade agar bisa lebih efektif di bawah tanah. Apakah Kapak yang lebih kuat? Apakah Tas yang lebih besar? Atau Lentera yang lebih tahan lama? Benar-benar pilihan yang membuat bimbang. Oiya, selain upgrade, ada juga sistem “Cogs” (atau lebih sering dikenal dengan istilah: rune; dalam game lain) yang bisa dicabut-pasang di gadget Dorothy untuk menambah “sifat”. Contoh: 2 Cog diperlukan untuk dipasang pada Lentera agar setiap mineral bisa mudah terlihat di layar. Atau pasang Cog pada Kapak agar setiap creep yang terbunuh akan memberikan tambahan sedikit HP. Atau pasang Cog pada Tas agar setiap Dorothy meninggal dunia di tempat (misal: tertimpa batu), mineral kita hanya hilang sebagian. Cog sangat sulit ditemukan di game ini, kita harus memperhatikan sela-sela tersembunyi, dinding yang “aneh”, kita pukul tahu-tahu ada ruangan rahasia berisi 1 buah Cog. Mekanisme Cog pada gadget ini sangat menarik dan salah satu daya tarik utama game ini.
  3. Konversi “Artefak” menjadi Blueprint spesial. Blueprint spesial diperlukan untuk menambahkan sifat ke gadget Dorothy. Misalnya: Blueprint spesial untuk menambahkan fitur “kembali ke kota kapan saja, di mana saja”.

Seni
Bisa dibilang, saya hampir tidak pernah tertarik dengan game yang menggunakan artwork sprite atau yang gaya retro. Tapi, SWD2 sepertinya sprite dipoles dengan efek berbindar, kilauan yang membuat visual game ini terlihat memukau. Belum lagi dipadukan dengan animasi efek fisika yang top, animasi anatomi yang berkualitas tinggi.

HD Rumble
Nyemplung ke kolam terasa getaran “kecipak-kecipak”. Memukul batu dengan kapak terasa “plang-plang”. Menembakkan grap hook terasa “toeng, jeb”. Game ini tak pernah membuat saya berhenti mengagumi kedetilan HD Rumble yang diaplikasikan dengan baik oleh studio Swedia ini. Dan tentunya, fitur getar HD si SWD2 ini hanya akan dapat kita nikmati di Switch.
Tingkat kesulitan dan Teka-teki
Buat para completionist, game ini dibuat untuk memuaskan ke-OCD-an kamu! Dengan gaya game “bikinan Nintendo” yang memiliki demografi pemain sangat luas; game ini dijamin bisa memancing rasa “kalau belum dapat belum selesai!” di setiap goa yang Dorothy masuki. Di dalam goa, ada ruangan rahasia yang menunggu untuk kita temukan. Dan bila sudah kita temukan, di icon goa tersebut akan diberikan centang hijau yang nampak pada minimap. Jadi rasanya kalau belum centang hijau, terasa ada yang kurang. Aspek teka-teki pada game ini bisa dibilang “aman untuk semua usia”; karena kalau terlalu sulit pun kita bisa tinggalkan saja goa tersebut dan lanjut bertambang ria di luar. Rata-rata, untuk menamatkan game ini bisa hanya dalam waktu 7-9 jam (perbandingan: SWD1 rata-rata tamat 5 jam). Banyak yang bilang game ini tergolong singkat. Tapi bagi completionist tentu saja jawabannya tidak :) Karena sangat menyenangkan rasanya untuk bisa menemukan ruangan rahasia, membedah teka-teki di dalam goa untuk menemukan 2 collectible (Cog & Artefak). Saya sendiri menamatkannya dalam waktu 15 jam, dengan kondisi kelengkapan Artefak 100%, dan ada map yang "secret area found" belum 100%.

Repetisi
IGN bilang game ini adalah: Explore, harvest, upgrade. Saya sangat setuju. Di SWD2 kegiatan bolak-balik ke atas permukaan untuk menjual hasil tambang sangatlah dipermudah dan sama sekali tidak terasa menjemukan. Malah kebalikannya! Ada perasaan “tanggung” terus untuk tetap menggali dan menjual mineralnya, tahu-tahu sudah 2 jam berlalu. Apalagi ada blueprint yang mendukung untuk kembali ke kota kapan saja. “Checkpoint” juga disebar di mana-mana. Jadi tidak usah khawatir untuk enggan balik ke kota. Apalagi mineral yang tidak bisa diambil dikarenakan tas Dorothy sudah penuh pun dipastikan 100% tidak akan kedap-kedip lalu hilang seperti game mainstream. Di SWD2, mineral tersebut akan tetap berada di sana sampai Dorothy datang kembali untuk mengambilnya.

Akhir Kata
Memainkan game ini membuat saya merasa senang. Saya sangat menikmati setiap ayunan kapak Dorothy dalam memecah batu, mendengarkan bunyi-bunyian suara aneh setiap ngobrol dengan para NPC, mengupgrade dan mendapatkan gadget; mengotak-atik Cog, berpusing-pusing ria dengan teka-teki, tersenyum oleh lelucon kecil (contoh nama goa: Floor is Lava, contoh nama Artefak: Fifty Shades of Cliche, beberapa lelucon yang menggunakan referensi game klasik Nintendo 1st IP), dan tentunya amat menikmati getaran HD-nya. Buat para non completionist, memang tidak bisa dipungkiri kalau cerita game ini agak pendek; namun tidak ada yang melarang kalau pengalaman yang pendek tidak boleh menjadi pengalaman yang menyenangkan kan?

Penulis:
Felix Widjaja
Maintendo

Komentar

Postingan Populer