Splatoon Conundrum

Tidak perlu dipungkiri, Splatoon adalah sebuah game yang fenomenal. Dengan menawarkan gameplay yang unik dan konsep desain yang solid, Splatoon mampu mendulang nilai positif dari para pengulas kenamaan Internasional. Sebut saja IGN, Gamespot, dan Metacritic yang memberi nilai 8/10 untuk game 3rd person shooter ini. Nilai penjualan Splatoon juga tidak kalah mendukung pernyataan diatas; untuk ukuran sebuah game yang dirilis eksklusif di konsol yang “hanya” terjual 13 Juta unit (Wii U; peace be upon it), angka penjualan Splatoon di 1,5 Juta copy (per Forbes 2017) bukanlah sesuatu yang dapat dianggap enteng. Sebagai perspektif, nilai penjualan Horizon: Zero Dawn mampu mencapai 3,4 Juta copy di PS4 dengan user base 60 juta unit. So, singkat kata, akan menjadi daftar panjang bila kita membicarakan kelebihan Splatoon.

Sebagai pemain Splatoon sejak Wii U, dan sekarang Splatoon 2 di Nintendo Switch, dapat penulis katakan bahwa Splatoon merupakan IP yang konsisten. Splatoon, baik yang pertama maupun sequelnya mampu memberikan pengalaman bermain yang unik, menarik, adiktif, dan menantang. Nilai-nilai positif dari Splatoon seperti perasaan kagum atas desain yang solid, akurasi yang ditawarkan motion control, dan rasa penasaran yang menjadi motivasi tersendiri, dapat juga dirasakan di Splatoon 2. Namun, seperti halnya versi Wii U, Splatoon 2 juga tak lupa memberikan rasa frustasi yang konsisten terkait koneksitivitas yang sangat amat tidak stabil.

Secara umum, konektivitas adalah momok tersendiri bagi gamer Nintendo. Tidak ada satupun IP Nintendo yang mengandalkan online seperti Mario Kart, Super Smash Bros., Pokken, atau ARMS yang tidak terdampak atas jeleknya stabilitas layanan online Nintendo. Namun, khusus untuk Splatoon, isu tersebut bukan hanya menjadi momok, tapi sudah menjadi raja setan. Hal itu tidak lepas dari fondasi Splatoon yang berbasis “full online”. Tentu, masih ada single player mode dan local mode. Namun segala keseruan dan aksi yang memompa adreanalin terletak di online mode.
Di sini, di Indonesia, masalah konektivitas Splatoon sangat beragam, ada beberapa player yang hanya disconnect sesekali, ada yang hampir separuh gaming session nya mengalami disconnect, bahkan ada yang tidak bisa online sama sekali, sehingga praktis tidak mampu menilai value dari game ini. Dan, tentu saja yang paling frustasi adalah mereka yang merasakan disconnect di lebih dari 50% pertandingan yang pernah dijalani. Masalah konektivitas ini menjadi semakin rumit ketika di Indonesia, tidak ada rumusan pasti tentang minimum requirement, ataupun ISP mana yang mampu menjamin stabilitas online Splatoon. ISP besar, seperti First Media, Biznet, Indihome, My Republic, dan MNC Play memberikan hasil yang fluktuatif; pun tercatat di komunitas, dengan download speed 30 Mbps dan Upload Speed 15 Mbps tetap tak bisa bebas dari masalah disconnect. Dan dalam rangka semakin memperkeruh suasana, Splatoon 2 tidak lupa memberikan penalty khusus bagi mereka yang berani-beraninya “rage-quit” dengan cara disconnect baik sengaja maupun tidak disengaja.
Pangkal dari masalah ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, Sejak Splatoon di Wii U, forum-forum internasional menitik beratkan 2 hal teknis yang menjadi penyebab jeleknya konektivitas Splatoon ini; pertama adalah penggunaan skema Peer to peer (P2P) sebagai backbone koneksi. Implikasi dari skema ini adalah host dan client dipaksa untuk berkomunikasi secara langsung, tanpa mempedulikan latency yang berpotensi membengkak karena keterbatasan geografi. Dan kedua adalah banyaknya elemen yang harus di sinkronisasikan. Berbeda dengan shooter biasa dimana data yg dikirim biasanya hanya berupa karakter dan peluru, Splatoon harus mengirimkan data tentang cat di lantai, cat di dinding, drop shot, dll. Dan hal itu diperparah dengan skema peer to peer dimana data tersebut harus dikirim ke 7 device lainnya. Kedua kendala diatas, tentu dapat diminimalisir bila nantinya Nintendo memakai skema server-client. Sehingga muncul pertanyaan besar berikutnya: Apakah dengan ditariknya biaya untuk bermain online, akankah kualitas online Splatoon akan lebih baik?

Dampak online berbayar pada kualitas online Splatoon adalah hal yang agak penulis ragukan, setidaknya dalam jangka waktu dekat. Hal itu dikarenakan meskipun nantinya akan ada biaya tambahan untuk bisa online, belum tentu Nintendo akan mendirikan dedicated server. Selalu ada kemungkinan Nintendo memberlakukan paid online hanya karena Microsoft dan Sony sukses mengimplementasikannya. Kalau pun nantinya Nintendo mendirikan server, belum tentu juga skema P2P akan dirubah menjadi Client-Host. Hanya karena skema P2P, bukan berarti Nintendo selama ini tidak ada server. Server diperlukan terutama dalam mengatur map & mode, mencari pasangan match-up, menentukan seseorang di-kick bila terlalu idle, dll.. Dengan adanya dedicated server, tentu match-up akan lebih baik, namun bila belum berganti skema, maka kualitas online tentu belum bisa konsisten. Dan yang terakhir, bila nantinya ada server dan pergantian skema, belum tentu hal itu akan mempengaruhi kita, gamer Indonesia. Seperti yg beberapa kali penulis ungkapkan, bahwa menurut peta Nintendo, di bawah Jepang hanya ada lauuut sampai Australia. Sehingga, kecil kemungkinan Nintendo akan membangun server untuk mengakomodasi gamer Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Sehingga adanya server mungkin tidak terlalu berdampak kita, terlebih lagi kaset fisik kita dan account kita diset beralamat di US, sehingga bisa saja kita tetap dipaksa berkomunikasi dengan server US.

Terlepas dari semua kendala, bukan berarti tidak ada harapan untuk perbaikan kualitas online Splatoon. Penulis dulu lewat splatoon (Wii U) lewat beberapa update, masih harus menunggu 8 bulan untuk bisa menyelesaikan 1 game. Hal itu sudah merupakan bukti bahwa meski belum berpengalaman, para insinyur jaringan Nintendo masih terus bekerja di balik layar untuk memberikan pengalaman bermain game Nintendo secara umum kepada kita semua. Dan selama mereka bekerja keras mencari solusi terbaik untuk konektivitas, isu tersebut akan masih tetap menjadi conundrum bagi semua pemain Splatoon.

Komentar

Postingan Populer