Nintendo Switch E-Sport Potential
Oke mari kita mulai dengan pertanyaan standar, Apa itu
E-sport?
Jawaban standar dari pertanyaan itu tentu adalah: “kompetisi
video game”. Tentu jawaban tersebut tidaklah salah, karena fondasi dari E-sport
sendiri tetaplah kompetisi untuk menentukan siapa yang paling jago bermain
sebuah game baik di konsol, maupun PC. Tapi, ada sesuatu yang lebih dari
sekedar itu, skala publikasi, level permainan, juga atmosfir yang ditawarkan
E-sport, tidaklah bisa disamakan dengan turnamen MK8D yg selama ini kami
adakan. So, kembali lagi ke pertanyaan apa itu E-sport? apa yang membuat
E-sport begitu terasa ‘wah?
Dan setelah kesusahan mencari definisi yang pas, maka saya
definisikan sendiri bahwa E-sport adalah kompetisi/turnamen video game yang
dikelola secara profesional. Tentu, dikelola secara profesional di situ
mempunyai implikasi tersendiri. Pertama (dan yang paling penting) ada uang yang
beredar di situ. Penyelenggara, selain harus menyediakan hadiah untuk pemenang,
juga harus mendapatkan dana dari acara tersebut, baik dari sponsor, tiket
menonton, ataupun komersialisasi footage, untuk bisa setidaknya menutup biaya
operasional. Kedua, penyelenggara harus bisa meminimalisir faktor di luar
gameplay yang bisa mempengaruhi hasil kompetisi. Masalah
standar seperti connection error, program crash, controller faulty tentu harus
bisa diantisipasi baik melalui pengadaan infrastruktur, maupun penetapan
prosedur penanganan masalah. Ketiga, bahwa E-sport harus bisa dirancang
sedemikian hingga agar bisa memotivasi peserta untuk bermain pada level
setinggi mungkin. Desain yang motivasi ini, lebih dari hanya sekedar hadiah.
Hal-hal sepele seperti aturan joystick atau konsol pribadi, atau bahkan jenis
layar tertentu terkadang dapat mempengaruhi mood player untuk menampilkan
kemampuan terbaiknya.
Beralih ke Nintendo Switch, tidak banyak yang membahas
tentang sisi kompetitif dari konsol terbaru Nintendo ini. Hal itu wajar,
mengingat kebanyakan kita bakal terfokus dengan konsep hybrid yang saat konsol
ini dikenalkan melalui video trailer setahun lalu, masih merupakan terobosan
yang fresh dan baru. Namun, dalam trailer itu juga, sebenarnya Nintendo sudah
menyampaikan gagasan akan seberapa besar potensi Switch di dunia E-sport berupa
adegan yang menggambarkan dua tim yang sedang bertanding Splatoon pada sebuah
ajang yang megah. Hal itu, sangatlah mungkin terjadi, karena Nintendo Switch
sendiri, berkat konsep desain yang solid, memiliki banyak kelebihan dalam hal
penyelenggaraan E-sport. Kelebihan itu antara lain:
Portabilitas
Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa dalam ajang
E-sport, audience tentu berharap masing-masing peserta dapat mengeluarkan
skill, teamwork, dan juga perhitungan di level tertinggi. Dan untuk bisa memfasilitasi
hal tersebut, seringkali penyelenggara mengijinkan peserta untuk membawa
controller sendiri untuk menambah rasa terbiasa pada game yang dipertandingkan.
Namun, kadangkala, permasalahan kebiasaan mencakup lebih dari sekedar
controller. Terkadang, para pemain pro tersebut mempunyai in-game setting
mereka sendiri. Hal-hal seperti kecepatan aim (fps), understeer/oversteer
(racing), pass assist (bola) atau mungkin button map tentu tidak bisa otomatis
disesuaikan hanya dengan membawa controller sendiri. Sebenarnya, hal itu sudah
coba ditanggulangi dengan penerapan cloud storage untuk sinkronisasi save dan
setting data di konsol/PC, tapi tentu saja hal itu membutuhkan waktu lebih dan koneksi
internet untuk sinkronisasi. Atau, kadang, pihak penyelenggara mengijinkan
peserta membawa konsol/PC sendiri, namun bisa dibayangkan betapa repotnya
proses tersebut. So, singkat kata, solusi untuk memotivasi pemain bermain di
level tertinggi di PC/konsol lain tetaplah tidak hassle-free.
Disinilah Nintendo Switch menunjukkan keunggulannya. Bila
diseleggarakan E-sport, panitia tinggal meminta peserta membawa switch
masing-masing. Dengan Switch masing-masing, peserta tinggal memasang Switchnya
ke dock yang disediakan panitia, dan, Voila! Segala setting dan save data sudah
siap untuk dipertandingkan. Hal itu tentu menguntungkan semua pihak, baik dari
peserta yang pastinya langsung terbiasa dengan settingan dia sendiri (iyalah, Switch
sendiri), juga memudahkan panitia karena mempersingkat waktu pra-pertandingan,
dan tentu saja menghemat biaya, karena panitia hanya perlu menyediakan dock,
bukan konsol. Bahkan dengan adanya dock portable ukuran mini sekarang, dapat
menghemat tempat dan biaya penyediaan dock menjadi jauh lebih murah.
Game yang potensial
Entah disadari atau tidak, hampir semua game besutan
Nintendo sendiri dapat dijadikan obyek E-sport. Mario Kart 8 Dx, Arms, dan Splatoon,
adalah game-game yang sangat menonjolkan sisi komeptitif. Terlebih lagi, tiap
game tersebut mempunyai konsep yang sangat solid. Dari sisi gameplay, misi dari
game tersebut sangat mudah dipahami penonton awam (kecuali Splatoon yang butuh setidaknya
1 match) sehingga tentu saja memperbesar kemungkinan menjadi fan base dari game
tersebut. Dari sisi Artstyle, game-game Nintendo juga mempunyai warna-warna
yang terang dan mencolok. Hal itu menjadikan game Nintendo lebih mudah mencuri
perhatian publik. Terlebih, penggunaan motion control menjadikan pemain lebih
flashy selama proses pertandingan, menjadikan footage dari player lebih
menghibur daripada memakai controller biasa. So, kesimpulannya, game kompetitif
besutan Nintendo, entah sengaja dibuat seperti itu atau tidak, mempunyai potensi
lebih dalam menarik penonton, bahkan mereka yang sebelumnya berada di belum mengenal Nintendo. Hal itu tentu akan memudahkan penyelenggara mencari pasar, yang nantinya
berujung pada kemudahan mencari sponsor.
Caveats
Namun, bukan berarti Nintendo Switch tidak punya kekurangan
dalam hal E-sport. Kekurangan yang paling jelas untuk saat ini adalah masih
kecilnya user base dari Nintendo Switch itu sendiri. Dengan umur konsol yang
baru 7 bulan, ditambah kesulitan Nintendo dalam memproduksi Switch sampai saat
ini, menyebabkan jumlah pemilik konsol ini belum lah banyak, pun hal itu juga
ditambah umur komunitas yang masih muda, sehingga pengurus komunitas masih
meraba-raba potensi kegiatan dari pengguna Switch ini sendiri. Dan tentu saja, seiring waktu, masalah ini bisa menghilang. Selain jumlah
pemilik, Nintendo Switch juga memiliki masalah pada jaringan local multiplayernya. Hal itu
sungguh sangat disayangkan karena seharusnya fasilitas ini justru menjadi
senjata utama Switch dalam penyelenggaraan E-sport karena dapat mengeliminasi
kebutuhan kabel LAN dan router atau switch (Switchnya Internet) sehingga mempermudah
penyelenggaraan event. Namun, alih-alih menjadi tulang punggung koneksi
E-sport, koneksi local multiplayer Switch justru sering ngadat. Bahkan pada
jarak 1 meter antar switch, tidak menjamin pengalaman bermain multiplayer yang
error-free. Dan kekurangan terakhir adalah kurangnya port RJ-45 pada dock
Switch. Artinya, bila panitia memutuskan untuk memakai kabel LAN sebagai tulang
punggung konektivitas, maka panitia masih harus menyediakan LAN-to-USB Adapter,
yang sayangnya, hanya bekerja dengan chipset khusus.
Well, pada akhirnya, sampai saat ini kita tidak bisa
memastikan akan seberapa besar pengaruh Nintendo Switch ini pada industri
E-sport. Namun, Artikel ini ingin menyampaikan pada kalian semua bahwa potensi
untuk menuju kesitu sangatlah terbuka lebar. Apabila dikelola dengan baik dan
didukung oleh kita, komunitas Nintendo, dan dengan bantuan langsung dari
Nintendo (siapa tahu kan?) mungkin skenario seperti foto ini mungkin bisa
terulang lagi. Dan siapa tahu, salah satu dari kita bisa menjadi atlit E-sport
di masa depan.
Note:
Saya menyatakan bahwa foto Nintendo diatas bukanlah milik saya, dan bahwa bercita-cita menjadi atlit E-sport profesional adalah hal yang sangat baik, namun saya berharap kita semua tetap mengutamakan pendidikan, pekerjaan, kewajiban dan/atau keluarga. Karena pada akhirnya, video game tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah "permainan video" yang dijalankan di waktu luang.




Komentar
Posting Komentar