The absurdity of FIFA on Switch


Oke, harus diakui, membicarakan FIFA 18 di Nintendo Switch adalah hal yang susah-susah-gampang. Meskipun sudah membawa nama besar FIFA, namun status absurd masih tetap menempel erat pada nasib game ini. Sebagai sebuah game, FIFA 18 diperlakukan dengan sangat membingungkan, dinantikan tetapi dicampakkan, dicintai tetapi juga dihujat sana sini. Tentu hal itu bukan semata-mata kesalahan salah satu pihak, seperti Electronic Arts (EA) atau Nintendo saja, tapi gabungan dari banyak variabel yang menyebabkan game ini berada di posisinya sekarang. Oleh karena itu mari kita analisis tiap variabel yang membuat EA, bagaikan, melakukan perjudian besar dengan meluncurkan game seperti FIFA untuk switch.

Variabel 1: Kapasitas konsol
Oke, oke.. bagi kalian yang selalu mengikuti perkembangan game konsol Nintendo terbaru ini, saya yakin sudah jengah rasanya buat kalian untuk mendengar seberapa terbatasnya kemampuan konsol ini. Tak kurang rasanya reviewer game, baik yang pro maupun yang kontra Nintendo, mengatakan berulang-ulang bahwa Nintendo Switch hanyalah sebuah tablet. Sehingga tidak layak rasanya bagi kita untuk berharap lebih dari game simulasi olahraga paling populer di dunia ini.
Meskipun tidak salah-salah amat, namun pendapat diatas juga tidak benar juga. Nyatanya, meskipun dengan pengurangan detail sana sini, in-game gameplay FIFA 18 di Switch dapat berjalan di resolusi 1080p dan stabil di 60fps. Selain itu, banyak reviewer ternama yang mengatakan bahwa pengalaman bermain yang ditawarkan FIFA di Switch tidak jauh berbeda dengan versi PS4/XB1/PC. So, apa yang kurang? 

BANYAK!

Bila diminta, saya tentu tidak mampu untuk menyebutkan satu per satu konten FIFA di PS4/XB1/PC yang tidak ada di Switch. Namun bila kita melihat ukuran full-gamenya, mungkin kita bisa mendapat gambaran seberapa banyak porsi dari FIFA yang tidak mendarat di Switch. Ukuran file FIFA 18 di XB1, berkisar 43,5 Gb, PS4 di angka 37,9Gb, sedangkan di PC, ukurannya sekitar 40Gb. Namun, FIFA di Switch, ‘hanya’ 14 Gb. Dari situ saja bisa dibayangkan bahwa konten FIFA versi Switch setidaknya tidak ada setengah FIFA di PS4. Lalu apa yang menyebabkan hal ini?

Well, pertama, internal memory Switch tidak cukup untuk menampung data sebesar itu. Bahkan bila FIFA di Switch berukuran 5 Gb lebih kecil dari versi PS4, pemilik Switch tidak akan bisa mendownload game ini tanpa membeli tambahan micro sd setidaknya 64Gb. Masalah kedua adalah harga cartridge yang jauuuuuh lebih mahal dari bluray, sehingga memaksa EA untuk memampatkan FIFA 18 dibawah 16Gb agar dapat memangkas biaya produksi game itu sendiri. Dan ketiga….

Variabel 2: Hubungan FIFA dan Nintendo

Ketika kita membayangkan hubungan EA dan Nintendo, mungkin banyak dari kita yang terbayang bagaimana EA hanya setengah hati mensupport Nintendo, terutama dengan title FIFA nya. Meskipun pada kenyataanya, EA tidak secara konsisten mengabaikan Nintendo. Bila kita tarik 12 Tahun ke belakang, dari FIFA 06 sampai FIFA 15, game FIFA selalu ada di platform Nintendo baik di handheld maupun konsol (meskipun cuma di Wii, bukan di Wii U). Namun, sejak 2 tahun lalu, EA sama sekali tidak meluncurkan FIFA di platform Nintendo manapun, tidak ada FIFA bagi Wii U, tidak ada FIFA bagi Wii, bahkan tidak ada FIFA di 3DS, meskipun sampai sekarang, 3DS adalah platform game paling laris di generasi ini. Dari situ, bisa dilihat bahwa dalam 2 tahun terakhir, ada semacam keraguan dari EA bahwa game FIFA akan mungkin tidak akan laku di platform Nintendo.
Kesan itu pun masih dapat dirasakan sekarang lewat FIFA di Switch yang meskipun sebenernya sudah bagus, tapi rasanya masih bisa lebih dioptimalkan. Sehingga memang benar bila dikatakan, FIFA 18 di Switch ini adalah sarana bagi EA untuk mengukur seberapa besar potensi FIFA di Platform Nintendo kedepannya.

Variabel 3: potensi pasar

Bila diamati, gamer game olahraga seperti FIFA atau PES, mempunyai karakteristik yang unik. Meskipun pada dasarnya seorang gamer bola adalah gamer juga, namun banyak diantara mereka yang menolak status gamer. Padahal bisa jadi mereka menghabiskan waktu lebih lama memainkan konsol daripada seseorang yang mengaku gamer. Hal itu dikarenakan pada dasarnya mereka hanya memainkan 1 jenis game saja. Fenomena ini dapat diamati pada saat rental PS booming 10 tahun yang lalu, seluruh rental secara konsisten didominasi oleh game Winning Eleven. Beberapa rental PS bahkan beradaptasi dengan hanya menyediakan game Winning Eleven saja. Bahkan ketika Playstation 2 mulai kadaluarsa, masih sering didapati para pemainnya setia mengisi rentalan dan memainkan game bola. Sampai akhirnya setelah sekian lama, Playstation 3 masih susah dibajak dan menjadi ujung popularitas rental PS saat itu. Intinya, meskipun mereka sama-sama memainkan game dengan konsol yang sama, menggerakkan karekter dengan kontroller yang sama, bahkan dengan playtime yg sama, mereka tetaplah tidak merasa diri mereka gamer.

Hal itu artinya, pasar dari game bola itu sendiri tidak bisa disamakan dengan pasar game non-olahraga lain. Secara umum, gamer bola tentu selalu ingin memainkan game bola keluaran terbaru. Dimana game terbaru tentu akan menawarkan mechanics, feel, dan yang paling penting, line-up paling update dari klub bola favorit mereka. Namun, di saat yang sama, mereka juga tidak mempedulikan tentang aspek teknis seperti GPU, RAM, Architecture dan tetek bengek lainnya, asalkan game bola mereka bisa mendapat pemain yg update dan berjalan dengan mulus waktu dimainkan. Lalu, hal apakah yang menjadi perhatian dari sebagian gamer bola tersebut?
Sepengamatan pribadi saya, popularitas game bola ditentukan oleh 2 faktor (tentu saja selain harus bisa berjalan mulus dan pemain yg update); yaitu Feel, dan komunitas.

Sudah jadi pemahaman bersama bahwa tiap gamer bola mempunyai gaya bermain yang berbeda-beda. Ada yg suka membangun serangan, ada yang lebih suka memainkan counter attack, ada yang suka menembus pertahanan lawan dari tengah, ada yg lebih memanfaatkan luas lapangan. Secara substansial, feel ini dipengaruhi oleh seberapa lengket pemain mengendalikan bola, seberapa sesuai operan dan tembakan dengan keinginan, dan seberapa cerdas AI mengantisipasi keadaan, baik bertahan maupun menyerang. Intinya, feel adalah koneksi antara gamer dengan pemain di dalam game sebagai hasil dari bagaimana game bola tersebut mengimplementasikan visi bermain kita (gamer) ke dalam permainan. Banyak yang beranggapan bahwa FIFA memberikan feel realistis, sedangan PES memberi feel Arcade.

Menurut banyak reviewer, FIFA 18 di Nintendo Switch sendiri mampu dengan sukses menawarkan  feel yang sama dengan FIFA 18 versi PS4/XB1 secara gameplay. Hal ini sebenarnya cukup layak diapresiasi. Meskipun dengan kemampuan konsol yang berbeda, meskipun menggunakan engine yang berbeda, dan meskipun versi switch tidak memiliki move-set sebanyak versi konsol lain, namun FIFA 18 di Switch tetap dapat memberikan sensasi bermain FIFA seperti yang didapatkan dengan versi PS4/XB1. 

Namun, keadaan FIFA sekarang tidaklah sama dengan 6 tahun lalu. Sejak memperkenalkan physic engine di FIFA 12 dan sampai FIFA 15, FIFA secara pasti mulai menguasai pasar. Feel yang ditawarkan FIFA lebih banyak diminati dibandingkan PES. Namun sejak FIFA 16 sampai sekarang, trend mengatakan bahwa PES akan segera menguasai pasar lagi.

Sehingga, pada dasarnya, keadaan FIFA 18 di switch sekarang ditentukan oleh faktor kedua, yaitu…..

Variabel 4: Persaingan Komunitas

Faktor penting kedua dari keberhasilan game bola adalah komunitas. Tidak peduli seberapa cocok seseorang bermain FIFA, bila komunitasnya dipenuhi oleh pemain PES, sudah bisa dipastikan dia akan lebih banyak memainkan PES. Sehingga, lambat laun, dia akan lebih memilih untuk membeli game PES daripada FIFA.

Di Switch, situasi menjadi lebih pelik dari sekedar FIFA vs PES. Ketiadaan cross-play ditambah umur Switch yang baru 9 bulan menjadikan komunitas FIFA di Swith tidak akan bisa semasif PS4/XB1. Selain itu, konfigurasi switch sendiri yang seakan-akan menarget pasar konsol kedua daripada konsol utama, menyebabkan banyak pemilik switch yang juga mempunyai PS4/XB1/PC. Hal itu menjadikan FIFA 18 di Switch ibarat “me against the world”, artinya, selain harus bersaing dengan PES, FIFA 18 Switch juga harus bersaing dengan FIFA 18 versi PS4/XB1/PC. Bahkan, untuk semakin memperparah situasi, FIFA 18 di Switch tidak memiliki fitur untur bermain antar teman via online, yang praktis, menjadikan komunitas FIFA 18 di Switch semakin kerdil karena terputus dari komunitas online. ditambah lagi, banyak pemilik switch yang melakukan metode wait & see, untuk memastikan bahwa dia kan punya komunitas yang cukup untuk menemaninya bermain FIFA di Switch, sehingga tentu menjadikan initial sales menjadi kurang mencerminkan pangsa pasar dari game ini.  

Kesimpulan

So, sungguh malang nian nasib FIFA 18 di Switch. Meskipun berada di tengah-tengah love hate relationship antara FIFA dan Nintendo, meskipun dikekang oleh kemampuan mesin yang terbatas dan komunitas yang masih kecil, meskipun berada pada trend popularitas yang menurun, dan meskipun harus bersaing dengan versi konsol lain, FIFA 18 secara ajaib tetap rilis di Switch. Hal itu membuat FIFA di Switch seperti sebuah kegagalan bila dilihat secara sekilas. 

Namun, bukan berarti keadaan akan seperti ini terus. Seiring waktu, pertumbuhan pemilik switch yang stabil dan fenomenal, tentu menjadi pasar yang menggiurkan bagi developer game. Bila EA sejak awal berharap FIFA 18 di Switch sukses besar dan menggunakan penjualan FIFA 18 sebagai dasar pembuatan FIFA di tahun-tahun berikutnya, maka bisa dipastikan FIFA 18 akan menjadi FIFA terakhir di Nintendo Switch. Namun, bila sebaliknya, EA menjadikan FIFA 18 Switch sebagai sarana untuk mempelajari pasar Switch, dan memperbaiki performanya di FIFA 19, maka tidak salah rasanya bila berharap nantinya Nintendo Switch akan kedatangan PES juga. :D  

Komentar

Postingan Populer